Jadilah Maka Jadilah
07.41.00
Hm.....
Udara kota Magetan sudah tercium aromanya. Sudah lama Iz (Faizah) tidak pulang
kampung. Rasanya kangen untuk melihat keluarga tercintanya yang selalu
memberikan motivasi penuh dalam menghadapi hidup ini. Lambaian tangan, yang
menjadi pertanda baik bagi hari ini. Umi...... Dipeluk wanita itu erat-erat.
Lama tak mencium bau khas badannya. Di sampingnya, dua bocah kecil senyum
sumringah menyambut kedatangannya. Iz meninggalkan keluarganya untuk menuntut
ilmu di Pesantren Al-Furqan, Surabaya. Semangat Iz yang membawanya ke tempat
itu. Saat ini, Iz sudah kelas 9 SMP. Ia pulang untuk meminta restu orang
tuanya.
Dalam
hati Iz, ia berkali-kali mengucapkan syukur pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
’ Terima kasih Ya Allah. Terima kasih atas semua kasih sayang ini. Aku bahagia
bersama mereka. Tolong jaga moment berharga ini untuk waktu yang lama.’
$$$
Iz
kembali mengucapkan “Alhamdulillah. Rumah, aku pulang.” #NP: A Thousand
Year. (Heh?)
Di
dalam rumah, Iz juga disambut dengan sajian-sajian khas kota ini. Lempeng,
pecel, dan lodeh kentang menjadi favorite Iz selama ini. Wajah ceria, terpancar
dari wajahnya.
“Subhanallah,
Alhamdulillah. Waw..! Jazakumullah ya umi....”
“Sama-sama
sayang. Ini hanya hadiah kecil dari umi atas perjuanganmu belajar di ponpes.”
Jawabnya sambil memeluk Iz.
Makan
bersama adalah moment yang Iz dambakan. Jarang sekali abi, umi, dan adiknya
berkumpul bersama. Beberapa kegiatan, waktu, dan suasana yang menjadi
kendalanya. Tak terasa, Iz meneteskan air mata bahagia. Happy.......^^
$$$
Nonton
tv. Iz memulainya dengan acara On The Spot. Lamaaaaaaa sekali ia tak melihat
acara trans7 ini. “Wah, covernya dah ganti.” Gumamnya. Baru saja Iz
menontonnya, adik pertamanya; Fia, sudah
bersiap-siap ingin memilikinya. Adiknya berusaha mengambil wilayah Iz. Terpaksa,
Iz harus mengalah. Dari pada adiknya menjerit. Bising. Ckckckck......
Tv
sudah dijajah. Dimana lagi tempat santai selain kamar. Iz mengambil handphone
touchscreen-nya. Ia buka aplikasi Mozilla Firefox. Dituliskannya kalimat kabar
dunia korea(?). Sudah lama, Iz tidak menengok kabar dunia itu. Memang, dulu
waktu Iz masih duduk di bangku kelas 6 SD, Iz menjadi K-Pop Lovers. Karena
fanatiknya, laptop barunya sudah penuh dengan K-Pop yang diidolakannya.
Subhanalallah-nya,
Iz telah meninggalkan hal-hal yang seperti ini. Ia berfikir, hal ini akan
membuatnya galau, galau, dan galau. Lebih baik ia mengisi memori laptopnya
dengan kajian-kajian yang lebih bermanfaat.
“Iz....!”
kata uminya sedikit berteriak. Lamunannya pecah saat itu.
“Ada
apa, mi?”
“Kemarilah.
Ada kabar duka.” Jawab uminya. Iz sempat sedikit kaget. Hatinya bertanya-tanya,
siapa yang meninggal dunia, innalillahi wa innailaihi rooji’un.
“Siapa,
mi?”
“Ibu
temanmu, Arien. Bersiap-siaplah. Mari kita takziyah.”
“Ya
Allah. Sebentar ya mi...”
Segeralah
Iz berganti pakaian. Jubah berwarna hijau dengan sedikit corak bunga di
depannya. Greng...greng... Mobil yang dikendarai uminya melaju agak cepat.
Tepat
di depan pintu rumah Arien.
“Assalamu’alaikum. Arien...” sapa Iz.
“Wa’alaikum
salam, ini Iz? Terima kasih atas kedatangannya. Maafkan ibu saya jika selama
ini ada salah padamu, Iz. Hiks..hiks..”
Tangisannya
pecah saat Iz memeluknya. Didekapnya erat. Ibu Arien meninggal karena penyakit
kanker. Kasihan...
$$$
2
hari berlalu. Subuh ini, Iz akan kembali ke Pondoknya. Iz hanya diantar sopir,
kakek, dan adik keduanya. Kedua orang tuanya sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Di perjalan, Aufa (adik kedua Iz) bertanya sesuatu kepada Iz.
“Kak... Aku boleh tanya nggak?” tanya Aufa yang
tiba-tiba berada di samping kakaknya.
“Boleh-boleh
saja. Emangnya mau tanya apa??”
“Kak,
kematian itu apa sich?”
“Kematian?
Em..... kematian itu awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia,
di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan
atau berbagai ragam siksa dan kenistaan. Kamu dengar kata itu dari siapa?”
“Kata
ibu. Saat aku bangun, tiba-tiba ibu mengatakan ‘Kematianku akan datang’.”
“Hah?!”
Iz kaget mendengarnya. ‘mengapa ibu berkata seperti itu?’.
“kenapa
kakak kaget?”
“Ehm....
Gak papa, dek.”
“Oo
ya udah.”
‘mengapa
ibu berkata seperti itu?’. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di
fikirannya. Namun, Iz harus fokus dalam menghadapi Ujian Nasional yang tinggal
menghitung hari.
$$$
Dag
dig dug..
Setelah
mengikuti ujian selama 4 hari, inilah saat yang paling menegangkan. Menerima
hasil ujian.
Dag
dig dug..
“Faizah
Nur Afifah.” panggil Ustadzah Nur.
“Ya,
Us.”
“Selamat,
kamu adalah lulusan terbaik sekolah ini. Danem kamu 29,10!! Beri tepuk tangan
yang meriah!!”
Alhamdulillah
wa syukurillah ‘ala nikmatillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Iz teringat
ibunya.
‘Umi
pasti senang mendengar berita ini.’ Batinnya. Karena senangnya, Iz pun tidak
berhati-hati saat menuruni tangga panggung. Kaki Iz menginjak roknya bagian
belakang. Kecelakaan pun tidak terhindar. Iz jatuh membentur tanah. Apa yang
terjadi? Iz merasakan sakitnya. Darah sedikit mengucur di keningnya. Ustadzah
Fira yang tepat di depannya, segera menolong Iz untuk bangun. Iz dibawa ke UKS
untuk perotolongan pertama. Saat itu juga, terjadi kecelakaan hebat di derah
Madiun. Umi dan abi Iz korbannya. Mereka ditabrak dari arah belakang oleh truk
yang sedang melaju kencang. Mobilnya mengarah ke kiri menabrak pohon beringin
yang cukup kokoh. Tabrakan kembali tak terhindarkan. Uminya menghembuskan nafas
terakhirnya dengan mendekap Al-Qur’an-nya. Innalillahi wa innailaihi
rooji’un. Abinya yang sudah sekarat, warga sekitar segera membawanya ke
rumah sakit terdekat. Di rumah sakit, abinya sedang dirawat intensif.
Saat
ini, Iz merasakan hal yang sangat tidak mengenakkan. Iz selalu teringat ibunya.
Ingin sekali iz menelfon ibunya. Tiba-tiba, Iz menerima panggilan dari ustadzah
Fira. Diserahkannya telfon itu kepada Iz.
“Assalamu’alaikum,
Iz.”
“Wa’alaikum
salam. Ini paman?”
“Benar
Iz. Kamu jangan kaget yaa nak. Sabar. Tabahlah selalu.” Suara paman mulai
bergetar.
“Ada
apa paman? Apa yang sedang terjadi? Katakanlah yang sebenarnya. Aku akan tabah
dan sabar.” Iz semakin heran dengan keadaan ini.
“Sabar
ya nak... Ibumu meninggal dunia. Tepat pukul 9 tadi. Ia kecelakaan. Kamu harus
tabah ya nak...” tangis pun tak terbendung. Iz terdiam sejenak. Hah?! Ibu
meninggal?Bagaimana ini bisa terjadi??ampunilah dosa hamba jika hamba masih
belum bisa menerima kematian umi hamba Ya Rabb.
Di
rumah, terlihat uminya terpapar kaku dengan balutan kain putih. Kaki Iz tak
sanggup lagi melangkah. Ia menangis tersedu-sedu di dekat mayat uminya.
Sungguh
jika Allah akan mengatakan ‘Kun Fayakun’ tidak ada yang bisa
menghentikannya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 117, Allah berfirman :
(Allah)
Pencipta langit dan bumi. Apabila dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya
berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
Maka,
janganlah menjadi orang yang putus asa. Berusahalah, sabar, dan berserah
dirilah kepada Allah. Hal itu akan membuatmu hidup lebih baik.
Posting Komentar