Jadilah Maka Jadilah


Hm..... Udara kota Magetan sudah tercium aromanya. Sudah lama Iz (Faizah) tidak pulang kampung. Rasanya kangen untuk melihat keluarga tercintanya yang selalu memberikan motivasi penuh dalam menghadapi hidup ini. Lambaian tangan, yang menjadi pertanda baik bagi hari ini. Umi...... Dipeluk wanita itu erat-erat. Lama tak mencium bau khas badannya. Di sampingnya, dua bocah kecil senyum sumringah menyambut kedatangannya. Iz meninggalkan keluarganya untuk menuntut ilmu di Pesantren Al-Furqan, Surabaya. Semangat Iz yang membawanya ke tempat itu. Saat ini, Iz sudah kelas 9 SMP. Ia pulang untuk meminta restu orang tuanya.
Dalam hati Iz, ia berkali-kali mengucapkan syukur pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ’ Terima kasih Ya Allah. Terima kasih atas semua kasih sayang ini. Aku bahagia bersama mereka. Tolong jaga moment berharga ini untuk waktu yang lama.’
$$$
Iz kembali mengucapkan “Alhamdulillah. Rumah, aku pulang.” #NP: A Thousand Year. (Heh?)
Di dalam rumah, Iz juga disambut dengan sajian-sajian khas kota ini. Lempeng, pecel, dan lodeh kentang menjadi favorite Iz selama ini. Wajah ceria, terpancar dari wajahnya.
“Subhanallah, Alhamdulillah. Waw..! Jazakumullah ya umi....”
“Sama-sama sayang. Ini hanya hadiah kecil dari umi atas perjuanganmu belajar di ponpes.” Jawabnya sambil memeluk Iz.
Makan bersama adalah moment yang Iz dambakan. Jarang sekali abi, umi, dan adiknya berkumpul bersama. Beberapa kegiatan, waktu, dan suasana yang menjadi kendalanya. Tak terasa, Iz meneteskan air mata bahagia. Happy.......^^
$$$
Nonton tv. Iz memulainya dengan acara On The Spot. Lamaaaaaaa sekali ia tak melihat acara trans7 ini. “Wah, covernya dah ganti.” Gumamnya. Baru saja Iz menontonnya, adik  pertamanya; Fia, sudah bersiap-siap ingin memilikinya. Adiknya berusaha mengambil wilayah Iz. Terpaksa, Iz harus mengalah. Dari pada adiknya menjerit. Bising. Ckckckck......
Tv sudah dijajah. Dimana lagi tempat santai selain kamar. Iz mengambil handphone touchscreen-nya. Ia buka aplikasi Mozilla Firefox. Dituliskannya kalimat kabar dunia korea(?). Sudah lama, Iz tidak menengok kabar dunia itu. Memang, dulu waktu Iz masih duduk di bangku kelas 6 SD, Iz menjadi K-Pop Lovers. Karena fanatiknya, laptop barunya sudah penuh dengan K-Pop yang diidolakannya.
Subhanalallah-nya, Iz telah meninggalkan hal-hal yang seperti ini. Ia berfikir, hal ini akan membuatnya galau, galau, dan galau. Lebih baik ia mengisi memori laptopnya dengan kajian-kajian yang lebih bermanfaat.
“Iz....!” kata uminya sedikit berteriak. Lamunannya pecah saat itu.
“Ada apa, mi?”
“Kemarilah. Ada kabar duka.” Jawab uminya. Iz sempat sedikit kaget. Hatinya bertanya-tanya, siapa yang meninggal dunia, innalillahi wa innailaihi rooji’un.
“Siapa, mi?”
“Ibu temanmu, Arien. Bersiap-siaplah. Mari kita takziyah.”
“Ya Allah. Sebentar ya mi...”
Segeralah Iz berganti pakaian. Jubah berwarna hijau dengan sedikit corak bunga di depannya. Greng...greng... Mobil yang dikendarai uminya melaju agak cepat.
Tepat di depan pintu rumah Arien.
 “Assalamu’alaikum. Arien...” sapa Iz.
“Wa’alaikum salam, ini Iz? Terima kasih atas kedatangannya. Maafkan ibu saya jika selama ini ada salah padamu, Iz. Hiks..hiks..”
Tangisannya pecah saat Iz memeluknya. Didekapnya erat. Ibu Arien meninggal karena penyakit kanker. Kasihan...
$$$
2 hari berlalu. Subuh ini, Iz akan kembali ke Pondoknya. Iz hanya diantar sopir, kakek, dan adik keduanya. Kedua orang tuanya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Di perjalan, Aufa (adik kedua Iz) bertanya sesuatu kepada Iz.
 “Kak... Aku boleh tanya nggak?” tanya Aufa yang tiba-tiba berada di samping kakaknya.
“Boleh-boleh saja. Emangnya mau tanya apa??”
“Kak, kematian itu apa sich?”
“Kematian? Em..... kematian itu awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan. Kamu dengar kata itu dari siapa?”
“Kata ibu. Saat aku bangun, tiba-tiba ibu mengatakan ‘Kematianku akan datang’.
“Hah?!” Iz kaget mendengarnya. ‘mengapa ibu berkata seperti itu?’.
“kenapa kakak kaget?”
“Ehm.... Gak papa, dek.”
“Oo ya udah.”
‘mengapa ibu berkata seperti itu?’. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di fikirannya. Namun, Iz harus fokus dalam menghadapi Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari.
$$$
Dag dig dug..
Setelah mengikuti ujian selama 4 hari, inilah saat yang paling menegangkan. Menerima hasil ujian.
Dag dig dug..
“Faizah Nur Afifah.” panggil Ustadzah Nur.
“Ya, Us.”
“Selamat, kamu adalah lulusan terbaik sekolah ini. Danem kamu 29,10!! Beri tepuk tangan yang meriah!!”
Alhamdulillah wa syukurillah ‘ala nikmatillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Iz teringat ibunya.
‘Umi pasti senang mendengar berita ini.’ Batinnya. Karena senangnya, Iz pun tidak berhati-hati saat menuruni tangga panggung. Kaki Iz menginjak roknya bagian belakang. Kecelakaan pun tidak terhindar. Iz jatuh membentur tanah. Apa yang terjadi? Iz merasakan sakitnya. Darah sedikit mengucur di keningnya. Ustadzah Fira yang tepat di depannya, segera menolong Iz untuk bangun. Iz dibawa ke UKS untuk perotolongan pertama. Saat itu juga, terjadi kecelakaan hebat di derah Madiun. Umi dan abi Iz korbannya. Mereka ditabrak dari arah belakang oleh truk yang sedang melaju kencang. Mobilnya mengarah ke kiri menabrak pohon beringin yang cukup kokoh. Tabrakan kembali tak terhindarkan. Uminya menghembuskan nafas terakhirnya dengan mendekap Al-Qur’an-nya. Innalillahi wa innailaihi rooji’un. Abinya yang sudah sekarat, warga sekitar segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Di rumah sakit, abinya sedang dirawat intensif.
Saat ini, Iz merasakan hal yang sangat tidak mengenakkan. Iz selalu teringat ibunya. Ingin sekali iz menelfon ibunya. Tiba-tiba, Iz menerima panggilan dari ustadzah Fira. Diserahkannya telfon itu kepada Iz.
“Assalamu’alaikum, Iz.”
“Wa’alaikum salam. Ini paman?”
“Benar Iz. Kamu jangan kaget yaa nak. Sabar. Tabahlah selalu.” Suara paman mulai bergetar.
“Ada apa paman? Apa yang sedang terjadi? Katakanlah yang sebenarnya. Aku akan tabah dan sabar.” Iz semakin heran dengan keadaan ini.
“Sabar ya nak... Ibumu meninggal dunia. Tepat pukul 9 tadi. Ia kecelakaan. Kamu harus tabah ya nak...” tangis pun tak terbendung. Iz terdiam sejenak. Hah?! Ibu meninggal?Bagaimana ini bisa terjadi??ampunilah dosa hamba jika hamba masih belum bisa menerima kematian umi hamba Ya Rabb.
Di rumah, terlihat uminya terpapar kaku dengan balutan kain putih. Kaki Iz tak sanggup lagi melangkah. Ia menangis tersedu-sedu di dekat mayat uminya.
Sungguh jika Allah akan mengatakan ‘Kun Fayakun’ tidak ada yang bisa menghentikannya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 117, Allah berfirman :
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
Maka, janganlah menjadi orang yang putus asa. Berusahalah, sabar, dan berserah dirilah kepada Allah. Hal itu akan membuatmu hidup lebih baik.

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar