Nightmare
20.04.00
Husshh......
Husshh...... Husshh......
Nafas
terpotong-potong. Detak jantung melaju lebih cepat dari pesawat jets. Langkah
ini serasa melayang di atas gumpalan awan kelam. Hampir sampai. Hampir sampai.
Namun, rasanya tak sampai-sampai. Di belakangku, terlihat geng serigala buas
yang fokus dalam pengejaran ini. Dengan kuku hitam tajam, mereka mencabik-cabik
mangsanya. Kulit, darah, daging, mereka santap dengan satu lahapan. Ngeri
rasanya melirik wajah jahat mereka. Kaptennya, tertanda mata merah dengan
beberapa bekas luka jahitan. Sedangkan prajuritnya, terdapat luka lebam
disetiap kening mereka. Ngeri...Ngeri...Rasanya ngeri..!!
Untung.
Di depan sana terlihat secercah cahaya. Rumah sederhana berdiri kokoh di antara
jurang kelam. Kulompati jurang-jurang itu dengan langkah yang pasti. Hampir
saja aku jatuh ke jurang itu. Untung hanya sedikit terpeleset. Tinggal satu
langkah lagi. Dan.... Hap. Kuraih gagang pintunya. Tok...tok...tok...
Assalamu’alaikum.. Tak ada jawaban sama sekali. Sekali lagi. Assalamu’alaikum.
Kawanan serigala itu semakin dekat. Terpaksa aku masuk rumah tanpa ijin.
(Jangan di tiru yaaa.....^^ Berdasarkan....... Etika bertamu......).
Ternyata
rumah ini benar-benar tidak ada orangnya. Kututup kembali pitunya. Dengan
seluruh tenaga, kublok pintu itu dengan beberapa besi balok. Terdengar suara
gedoran dari luar pintu. Krek... Satu besi telah jatuh. Pertanda buruk ini. Aku
segera lari menaiki tangga. Sepertinya, tangga itu tidak banyak. Namun, satu
langkah tuk maju, tangga itu menambah 2 tingkat. Sangat sulit untuk melangkah.
Bruak!! Hah!! Pintu sekuat itu dengan mudah terbuka. Terbayang dibenakku
kuatnya tenaga geng serigala. Hawa dingin mereka terasa dari kejauhan. Bbbrr..
(teringat iklan fanta. Brrrr.. Hehehe). Tak ada cara lain, selain lari, lari,
dan lari. Alhamdulillah. Sampailah di ruangan yang paling atas. Luas, dingin, membuat bulu kuduk ini
nge-dance Mr. Simple(?). aku bersembunyi di dalam almari usang. Langkah mereka
terdengar semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Geng serigala telah sampai
di depan almari ini. Deg degan rasanya. Nyawa pun menjadi taruhannya.
Byuur...
Aku gelagapan menerima air ini.
“Hei
Shara! Ayo cepat bangun! Ini sudah jam setengah enam. Cepat sholat subuh sana!
O iya. Kamu kemarin gak sholat isya’ kan?? Ngaku aja dech.” omel kakakku dengan
membawa ember berwarna biru.
“Ini
kakak kan?? Aku masih di sini??”
“Heh?!
Kamu bicara apa sich? Kamu kesambet petir?” tanya kakakku heran.
Ternyata,
semua ini hanya mimpi. Alhamdulillah, alhamdulillah, astaghfirullah,
na’udzubillahi mindzalik. Beberapa kali aku mencoba mencubit pipiku. Syukurlah
hanya mimpi. Apakah ini teguran dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala?? Mungkin
begitu. Aku kemarin sudah lupa sholat, belum baca do’a mau tidur lagi.
Ckckck..... “Ya Allah.. Ampunilah dosa-dosa hamba ini. “
Posting Komentar